Tim Satgas Udara Karhutla Riau menyemai sebanyak 11.000 kilogram bahan semai NaCl atau garam dapur melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayahnya.
Operasi penerbangan tersebut dilaksanakan selama periode 30 Juli hingga 5 Agustus 2026 dengan mengerahkan satu unit pesawat Cessna Caravan registrasi PK-SNM.
Kepala Pelaksana BPBD dan Pemadam Kebakaran Provinsi Riau, M. Edy Afrizal, SE, MH, mengonfirmasi bahwa total durasi penerbangan penyemaian awan tersebut telah mencapai 24 jam 34 menit dalam 11 sorti. Menurutnya, intervensi cuaca ini berhasil memicu hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di sejumlah daerah rawan bencana karhutla.
Cakupan Wilayah Penyemaian Awan
Pada hari terakhir pelaksanaan operasi, Rabu (05/08/2026), armada udara memberangkatkan dua sorti penerbangan penyemaian awan menuju beberapa kabupaten sasaran. Target penyemaian meliputi Kabupaten Siak, Pelalawan, Indragiri Hilir, Kepulauan Meranti, Bengkalis, Indragiri Hulu, hingga sebagian wilayah Rokan Hilir.
Selain mengandalkan pesawat modifikasi cuaca, Satuan Tugas (Satgas) Udara Provinsi Riau juga memperkuat kesiapsiagaan armada udara pendukung di lapangan. BNPB menyiagakan satu unit helikopter patroli serta lima unit helikopter waterbombing untuk penanganan titik api yang sulit dijangkau.
Penanganan Titik Api di Lapangan
Edy Afrizal menjelaskan bahwa tim gabungan saat ini fokus memadamkan sejumlah lokasi kebakaran aktif, di antaranya wilayah Sungai Guntung dan Suaka Margasatwa Kerumutan di Kabupaten Indragiri Hulu. Selain itu, petugas masih berupaya menanggulangi sisa titik api di Kelurahan Kerumutan dan Teluk Kiambang, Kabupaten Indragiri Hilir.
Sementara itu, untuk lokasi kebakaran di Desa Mak Teduh, Kabupaten Pelalawan, kondisi api dilaporkan telah padam namun masih menyisakan asap tipis. Tim pemadam langsung melanjutkan tahapan pendinginan di area tersebut guna memastikan tidak ada lagi bara api yang berpotensi memicu kebakaran susulan.
Sinergi Satgas dan Pemantauan Berkala
Proses pemadaman di darat dan udara melibatkan koordinasi ketat antara TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Regu Pemadam Kebakaran (RPK) perusahaan, serta Masyarakat Peduli Api (MPA). Edy menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor tersebut berjalan sangat baik sehingga kondisi karhutla di Riau tetap terkendali.
Ia menambahkan bahwa transparansi data dan kecepatan respons armada penanggulangan menjadi kunci utama dalam meminimalisasi penyebaran asap di wilayah perkotaan. Pihaknya akan terus memantau pergerakan titik panas (firespot) secara berkala untuk menentukan langkah penanganan lanjutan.***
(Media Center Riau)


0 Komentar