Lalu Lintas Kapal Komersial di Selat Hormuz Terus Meningkat

Lalu lintas kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan pekan sebelumnya, di tengah berlanjutnya perundingan setelah tercapainya kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran.



Perundingan kedua negara masih berlangsung dalam situasi yang rapuh meskipun kesepakatan dicapai pada 14 Juni dan mulai berlaku pada 18 Juni.

Sebelum perang pecah pada akhir Februari, rata-rata sekitar 130 kapal komersial melintasi Selat Hormuz setiap hari. Namun, setelah aktivitas pelayaran hampir terhenti akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang kemudian dibalas oleh Teheran, arus kapal di jalur pelayaran strategis itu mulai pulih seiring tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran.

Meski mengalami peningkatan, lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih sekitar 70 persen lebih rendah dibandingkan tingkat sebelum perang.

Pelaku industri pelayaran tetap berhati-hati memanfaatkan jalur tersebut karena negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung dalam kondisi yang belum stabil serta ketidakpastian yang masih tinggi.

Berdasarkan data perusahaan analitik Kpler, sebanyak 223 kapal komersial melintasi Selat Hormuz pada periode 15–21 Juni, atau rata-rata 32 kapal per hari.

Jumlah pelayaran harian terendah tercatat pada 17 Juni dengan 19 kapal, sedangkan angka tertinggi mencapai 54 kapal pada 22 Juni.

Pada periode 22–28 Juni, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz meningkat menjadi 343 kapal, dengan rata-rata harian naik menjadi 49 kapal.

Jumlah pelayaran harian terendah tercatat pada 28 Juni dengan 24 kapal, sementara angka tertinggi mencapai 76 kapal pada 24 Juni.

Tanggal 24 Juni menjadi hari dengan lalu lintas kapal paling padat di Selat Hormuz sejak perang dimulai pada 28 Februari.

Dibandingkan pekan sebelumnya, lalu lintas kapal di selat tersebut meningkat hampir 54 persen. Sebagian besar pelayaran dilakukan oleh kapal tanker pengangkut minyak mentah dan produk minyak bumi, terutama yang berasal dari Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait.

Data tersebut juga menunjukkan sedikitnya enam juta barel minyak mentah melintasi Selat Hormuz pada Senin.

Sebagian besar kapal masih menggunakan jalur pelayaran yang berada di perairan teritorial Iran. Mayoritas pelayaran di jalur tersebut dilakukan oleh kapal-kapal armada bayangan (shadow fleet) serta kapal yang berada di bawah sanksi internasional.***(Berita Antara)

Sumber: Anadolu


Posting Komentar

0 Komentar