Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz apabila perang di Lebanon tidak diakhiri, demikian dilansir kantor berita semiresmi Iran, Tasnim, pada Minggu (21/6), mengutip sumber yang dekat dengan tim negosiator Iran.
Sumber tersebut memperingatkan bahwa jika "kejahatan" Israel di Lebanon terus berlanjut dan integritas wilayah Lebanon tidak dijamin, Iran tidak akan melakukan perundingan mengenai isu-isu lainnya.
Sumber tersebut menambahkan bahwa syarat-syarat yang diajukan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz juga mencakup pembebasan sebagian aset negara yang dibekukan sebagai langkah awal berdasarkan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) perdamaian yang baru-baru ini ditandatangani dengan Amerika Serikat (AS) dan perjanjian terkait dengan Qatar, serta pelaksanaan ketentuan-ketentuan MoU, yang mensyaratkan penghentian perang di semua front termasuk Lebanon, pencabutan blokade laut AS terhadap Iran, serta penerbitan pengecualian oleh AS untuk ekspor minyak, petrokimia, dan produk minyak bumi Iran.
Menurut sumber tersebut, pencabutan blokade laut saja tidak cukup untuk membuka kembali selat itu.
Pernyataan tersebut muncul ketika tim negosiator Iran, termasuk Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf, Menteri Luar Negeri Seyed Abbas Araghchi, dan Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Ali Bagheri Kani, saat ini berada di Swiss untuk melakukan pembicaraan dengan delegasi AS.
Dalam unggahan di platform media sosial X pada Minggu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan negaranya bertekad untuk memastikan AS melaksanakan komitmennya berdasarkan MoU dalam pertemuan di Swiss.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump menandatangani MoU perdamaian pada Kamis (18/6) pagi, dan finalisasinya diumumkan pekan lalu oleh Teheran, Washington, dan Islamabad.


0 Komentar