Tata Kelola Kependudukan Kunci Memanfaatkan Bonus Demografi

Sekretaris Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Sestama BKKBN), Budi Setiyono, menegaskan bahwa tata kelola kependudukan menjadi faktor penting dalam memanfaatkan bonus demografi di Indonesia.



Keseimbangan antara jumlah sumber daya manusia (SDM) dan kebutuhan tenaga kerja di dunia usaha harus dijaga agar tidak terjadi kelebihan maupun kekurangan tenaga kerja.

Menurutnya, salah satu langkah strategis yang dapat dilakukan adalah mengendalikan angka kelahiran atau Total Fertility Rate (TFR) agar pertumbuhan penduduk tetap seimbang dengan kebutuhan pembangunan.

“Kita galakkan bagaimana agar masyarakat mau untuk KB, atau mengurangi jumlah anak untuk mengerem jumlah pertumbuhan penduduk,",” ujarnya Pada Rakorda Program Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Provinsi Riau di Hotel Grand Central Pekanbaru, Rabu (11/3/2026).

Ia menambahkan, pengendalian angka kelahiran menjadi salah satu cara yang dapat ditempuh, bahkan dengan mempelajari kebijakan pengendalian penduduk yang pernah diterapkan di negara lain, seperti kebijakan satu anak atau one child policy.

Selain pengendalian jumlah penduduk, Budi juga menekankan pentingnya penguatan kualitas penduduk, khususnya di Provinsi Riau. Menurutnya, bonus demografi hanya akan memberikan manfaat jika kualitas SDM mampu ditingkatkan sehingga manusia dapat menjadi modal intelektual bernilai tinggi.

Salah satu upaya meningkatkan kualitas SDM, lanjutnya, adalah dengan menurunkan angka stunting. Perbaikan kualitas kesehatan dan gizi masyarakat diyakini dapat meningkatkan kualitas tenaga kerja, sehingga mampu menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tinggi.

Dengan peningkatan kualitas tersebut, Budi menilai Riau tidak harus terus bergantung pada sektor ekstraktif berbasis sumber daya alam. Selama ini, sektor seperti perkebunan, pertanian, dan pertambangan masih terlihat menjadi tulang punggung perekonomian daerah.

Ke depan, ia mendorong transformasi ekonomi menuju sektor-sektor yang lebih beragam, seperti sektor digital, perdagangan, layanan dan jasa, serta industri logistik yang dinilai memiliki potensi berkembang sesuai dengan karakteristik SDM di Riau.

“Jika kualitas SDM meningkat, Riau tidak akan tertahan hanya di sektor ekstraktif. SDM harus memiliki kemampuan untuk masuk ke sektor-sektor baru seperti sektor digital, bisnis dan perdagangan, pelayanan dan jasa, dan lainnya,” tutupnya.***


(Media Center Riau)

Posting Komentar

0 Komentar