Utusan Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, pada Rabu (18/2) mengatakan aneksasi Israel atas tanah Palestina terjadi secara terang-terangan dan tanpa tantangan.
“Hari ini adalah hari pertama Ramadhan, bulan suci (umat Muslim), yang seharusnya menjadi bulan kedamaian dan refleksi spiritual. Namun warga Palestina di wilayah Palestina yang diduduki justru dirampas dari kemampuan mereka untuk menjalankan ibadah dengan bebas dan damai,” kata Mansour dalam sesi Dewan Keamanan PBB.
Mansour menuturkan bahwa tujuan Israel sejak lama adalah mengusir rakyat Palestina untuk merebut tanah Palestina.
“Skala dan kecepatannya telah berubah secara drastis, tetapi alat dan tujuannya tetap sama: permukiman dan teror pemukim, perampasan tanah dengan berbagai dalih serta penghancuran rumah, pengambilalihan pendaftaran tanah — semuanya demi tujuan akhir tersebut: aneksasi,” ucapnya.
Utusan Palestina itu menegaskan bahwa Palestina adalah milik rakyat Palestina, bukan untuk diperebutkan, dan bukan untuk dijual. Palestina, lanjutnya, bukan tanah tanpa rakyat, dan terlepas dari segala upayanya, Israel tidak akan dapat mengubah Palestina menjadi rakyat tanpa tanah.
“Keputusan-keputusan terbaru Israel berarti kita telah mencapai ujung jalan; aneksasi kini terjadi secara terang-terangan, tanpa tantangan. Ini akan menentukan masa depan kawasan kita dan menghancurkannya,” ujar dia.
Saat menyinggung gencatan senjata di Gaza, Mansour mengatakan hal itu menyelamatkan nyawa warga Palestina dan Israel.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, melalui gencatan senjata tersebut, membantu pembebasan sandera Israel, tetapi penderitaan rakyat Palestina masih jauh dari selesai, katanya.
“Israel tidak menginginkan gencatan senjata. Tujuannya tetap pendudukan, aneksasi, dan pengusiran paksa di Gaza, yang kini terbagi menjadi dua di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur,” tambah Mansour.
“Pertanyaan di hadapan kita jelas: Israel harus memilih antara aneksasi dan perdamaian,” sambungnya.
Dengan menyerukan tindakan internasional, Mansour mendesak negara-negara anggota untuk menegaskan bahwa Jalur Gaza dan Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, merupakan satu kesatuan wilayah Negara Palestina.
“Solusi dua negara tidak boleh menjadi ilusi dua negara,” tambahnya.***(Berita Antara)
Sumber: Anadolu


0 Komentar