Sang Perantau Ingin Majukan Dumai

 

SUKSES di negeri rantau tidak membuat Delyuzar Syamsi berpuas diri. Kini, ambisinya tidak lagi hanya sekadar mensejahterakan diri dan keluarga, tapi justru ingin berbuat lebih banyak lagi untuk kepentingan masyarakat dan daerah, kampung orang tua dan saudara maranya di Kota Dumai, Provinsi Riau.


Karir putra Dumai kelahiran Medan pada 3 Juni 1964 ini sangat bersinar di dunia perbankan, yaitu di BNI 46 dan Bank Muamalat. Berbagai jabatan dipercayakan kepadanya. Di BNI 46, dia pernah mengemban jabatan Analis Kredit Middle-Bank BNI Kantor Wilayah 01 Medan, Pengelola Nasabah Kecil-Bank BNI Kantor Cabang Jalan Sutomo Medan.

Selain itu, dia juga pernah dipercaya sebagai analisis kredit-Devisi Korporasi Satu Bank Besar Jakarta, Traine International Banking Officer (IBO) angkatan 6 untuk BNI Cabang Hongkong, Senior Credit Policy Manager Devisi Pengembangan Bisnis Kartu (BNI Card Center), Operational Manager BNI Syariah Banjarmasin, Asintant Vice President Branch Manager BNI Syariah Prima di Wisma Kyoei Prince Jakarta.

Setelah itu berkiprah pula di Bank Muamalat. Dia pernah menjabat Asisten Direktur Funding dan Layanan, Corporate Secretary dan Head of Corporate Secretary Devision, Head of Network and General Service Division, Head of Enterprise Asset Management Devision, dan Executive Direktor-Muamalat Institute.

Kini, anak pertama dari 11 bersaudara ini menjalani kesibukannya sebagai dosen Universitas Pamulang, anggota Komite Pemantau Risiko BNI Syariah, trainer service excellence, narasumber perbankan dan ekonomi syariah, bagian Businees and Development HIK INduk (11 BPRS), asesor risk management LSP Keuangan Syariah Jakarta, dan asesor customer service, teller, dan general banking di LSP EKBISI Jakarta.

Bagi anak Pasar Senggol jebolan S1 dari Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, dan jebolan S2 dari Universitas Gajahmada ini sukses itu bukan sekadar berhasil membangun karir atau pengembangan usaha untuk diri dan keluarga, serta untuk kelompok orang tertentu saja, tapi jauh dari itu adalah seberapa besar ia bisa memberikan manfaat bagi orang di sekitarnya.

“Sukses bukan sekadar berbuat dan berhenti pada satu titik. Manusia memiliki kebutuhan aktualisasi dengan memobilisasi segenap potensi, pengalaman, prestasi, jaringan pertemanan, dan berbagai sumberdaya agar bermanfaat bagi orang lain,” ujar Bang Del, begitu sapaan akrab anak pasangan Husin Hamid dan Hamidah, warga Dumai yang bermastautin di Jalan Sultan Syarif Kasim, Gang Taufik, ini kepada dumaizone.com.

Setelah berhasil di perantauan, suami Lili Afdalia ini terpanggil ingin berkiprah untuk memajukan Kota Dumai, kampung tempat dia pernah bermain dan bersekolah dulunya di SD Karang Anyer. Karena itulah, ayah dari Nabila Kaltsum Ulayya dan Muhammad Tsaqif Amaanullah ini telah berazam akan ikut maju di pesta demokrasi, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Dumai yang akan datang.

Dia optimis Kota Dumai bisa lebih maju lagi di masa mendatang. Saat ini dinilainya kondisi Dumai belum memenuhi standar kota yang ideal terkait sarana dan prasarana yang menunjang kehidupan, bisnis, dan lingkungan. Selain itu, potensi daerah belum tergarap secara maksimal, sehingga cita-cita mensejahterakan masyarakat masih sebatas sebuah harapan.

Visinya ingin menjadikan Dumai sebagai rumah kita bersama yang berbahtera (berbudaya, berkah, dan sejahtera) dengan misi menciptakan pemerintah yang layak, membentuk kota yang layak, dan mengupayakan kehidupan layak yang diawali dengan pertanyaan mendasar, yaitu "why do we exist?”.

Menurutnya, Dumai harus dibangun based on cultural background. Sebab, Melayu memiliki peradaban yang tinggi, namun mulai tergerus akibat rasa percaya diri dan keterpurukan keteladanan (role model) di kalangan tokoh adat, agama, dan pemimpin. Contoh: jika kita ingin meningkatkan kebersihan kota tidak langsung membeli sapu dan tong sampah, tetapi perlu menciptakan budaya malu dan budaya risiko.

Selain itu, perlu mengubah paradigma bahwa pegawai bukanlah amtenar, tetapi pelayan yang diupah oleh majikannya, yakni masyarakat. Semangat melayani sangat penting lewat pembentukan standard of service (standar layanan) mencakupi standar perilaku (standard of behavior), standar proses (standard of process), dan standar hasil (standard of result).

“Namun, alasan yang paling penting untuk tampil memimpin Dumai adalah berorientasi mardhatillah dan menggerakkan mesin-mesin investasi yang imbal hasilnya kelak di akhirat,” ucap dia.

Untuk mewujudkan tekad tersebut, kemampuan leadershipnya tak perlu diragukan. Selain didukung latarbelakang akademis yang sangat memadai, Bang Del juga sudah ditempa dalam berbagai kegiatan oraganisasi sejak duduk di bangku sekolahan hingga ke jenjang Perguruan Tinggi, organisasi kepemudaan, organisasi profesi, serta lainnya. Diantaranya dia pernah aktif di berbagai organisasi sebagai ketua senat, HMI, KNPI, KADIN, ICMI, PCMI, PPI, Muhammadiyah, ASBISINDO, MES, PKES, dan IAEI.

Bahkan, dia telah berkiprah dalam dunia kepemudaan hingga tingkat internasional sebagai wakil Indonesia dalam pertukaran pemuda ASEAN Jepang dan wakil Pertemuan Pemuda Dunia di Jepang. Pernah mengantarkan salah satu bank sebagai pemuncak dalam pelayanan perbankan di Indonesia, International Banking Officer BNI Hongkong, dan General Manager Bank Muamalat di Kuala Lumpur.

“Saya juga terlibat dalam proyek perbaikan layanan, pengadaan jaringan IT, ATM, perkantoran, dan sebagai project manager pembangunan gedung berlantai 20 dengan 4 basement yang menjadi ikon Bank Islam di Indonesia senilai Rp 1,5 triliun,” ujarnya.

Besar sebagai anak rantau bukan berarti Bang Del merasa asing dengan Dumai, kota kecil di bagian pesisir Riau ini. Pasalnya, dalam berbagai kesempatan dia dan keluarga selalu pulang untuk bersilaturrahim dengan kedua orang tuanya, serta saudara dan kerabat yang ada di daerah ini. Bang Del paham betul dengan kondisi daerah dan masyarakat daerah ini.

Apalagi, secara historis bahwa atok Bang Del sendiri adalah H. Abdoel Hamid (yang dipanggil La Hamid). Dia merupakan tokoh yang membuka Batu Teritib dan sekaligus sebagai penghulu pertama semasa pendudukan Belanda.

Lalu, abangnya Suwil membuka Tanjung Kapal. Salah satu anaknya H. Bachterim ikut mengembangkan dan menjadi tuan tanah (pemilik bukit yang biasa dinamai Bukit Bahterim). Ada juga putranya H. Kuris Hamid (pernah menjabat penghulu Batu Teritib) dan H. Aris Hamid (penghulu pertama Rimba Sekampung).

Bang Del optimis bahwa Dumai bisa lebih baik dan lebih maju di masa mendatang. Baginya, siapapun wali kotanya harus menjadi sapu bersih dan jangan menjadi kepala ikan yang busuk, sehingga harapan tak lagi menjadi wacana dan raibnya cita-cita gara-gara antipati dan sikap skeptis masyarakat.

“Mana mungkin kita bisa membersihkan lantai dengan sapu yang kotor. Begitu pula, mana mungkin suatu daerah bisa lebih baik bila yang memimpinnya seperti kepala ikan yang busuk. Sebab, ikan itu busuk mulai dari bagian kepalanya. Bila kepalanya dah busuk, maka bagian lainnya juga akan busuk.”

Tekad Bang Del sudah bulat ingin ikut helat akbar pesta demokrasi dalam menentukan pemimpin terbaik daerah ini. Berbagai upaya untuk menuju harapan itu sudah dilakukan. Sejak setahun terakhir dirinya sudah aktif menjalin komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat, terutama juga dalam upaya pendekatan terhadap sejumlah partai politik, sebagai kendaraan yang akan mengusungnya maju di Pilkada Dumai nantinya. Semoga!***(Yusnaidi Abdullah)

Posting Komentar

0 Komentar